Studi Subulus Salam

Posted by By Truth Seekers On 17.45

Kitab Subulus Salam dikarang oleh ulama’ yang bernama lengkap Muhammad ibn ‘Ismail ibn Shalah al-Amir al-Kahlani as-Shan’ani lahir  malam Jum’at pertengahan bulan Jumadil Akhir pada tahun 1099 H di Kahlan. di kitab al-Badru ath-Thali’ disebutkan bahwa beliau adalah keturunan Abi Thalib. Jika diruntut maka silsilahnya adalah Sayyid Muhammad ibn Isma’il bin Shalah bin Muhammad ibn Ali ibn Hifdzuddin bin Syarafuddin bin Shalah bin al-Hasan ibn al-Mahdi ibn Muhammad ibn Idris ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Yahya ibn Hamzah ibn Sulaiman ibn Hamzah ibn al-Hasan ibn Abdurrahman ibn Yahya ibn Abdullah ibn al-Hasan ibn al-Qasim ibn Ibrahim ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Hasan ibn al-Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib r.a[2]

Tahun 1107, bersama orang tuanya, beliau pindah ke kota Shan’a’ ibukota Yaman dan menuntut ilmu di kota tersebut.[3] diantaranya beliau berguru kepada al-Alamah Zaid ibn Muhammad ibn al-Hasan, Sayyid al-Alamah Shalah ibn al-Husain al-Akhfasy, dan Abdullah ibn Ali.[4]

 Kemudian mengadakan rihlah dan belajar hadits kepada ulama’ ulama’ besar yang berada di Mekkah dan Madinah. Ilmu yang beliau kuasai tidak hanya terbatas pada ilmu tertentu, namun beberapa ilmu yang  beragam, sehingga beliau berhasil mengungguli orang-orang yang sepadan dengannya. beliau juga memimpin sebuah majlis ilmi di kota Shan’a’. Hasil ijtihadnya disertai dengan dalil-dalil dan meninggalkan taqlid.

Kehidupannya bukan tanpa rintangan. Berbagai cobaan dan bencana mengiringi kehidupan beliau bersama ulama’-ulama’ lain yang semasa sebagai pembaharu yang mengajak secara jelas pada kebaikan (maslahah) dan kebenaran (haq). Ini adalah tantangan yang harus dijalani dan dilewati oleh beliau. Dan beliau berhasil melewati semuanya atas pertolongan Allah.

Beliau diasuh oleh salah satu imam negeri Yaman yang tinggal di Shan’a’, Imam Manshur. Beliau terus menyebarkan ilmu lewat pengajaran, fatwa-fatwa, dan karangan tanpa takut terhadap kecaman orang lain demi menegakkan kebenaran. Beliau tidak peduli terhadap hal yang akan menimpanya. Itulah keadaan yang menggambarkan orang-orang yang benar-benar ikhlas menegakkan agama Allah. Mereka lebih memilih ridlo Allah mengalahkan ridlo manusia.

Imam Shan’ani dikelilingi oleh banyak orang, baik yang khas ataupun awam. Mereka inilah yang belajar kitab-kitab hadits dari beliau, serta mengamalkan apa telah menjadi ijtihad beliau. Selain itu, mereka juga mentrasnfer ilmu yang telah didapatkan ke orang-orang lain. Imam Shan’ani wafat pada 1182 H dalam usia 123 tahun hari Selasa, 3 Sya’ban. Sebagian murid-muridnya menjadi ulama’ sekaligus mujtahid, diantaranya Sayyid al-Alamah Abdul Qadir ibn Ahmad, Qadhi al-Alamah Ahmad ibn Muhammad Qathin, al-Alamah Ahmad ibn Shalih ibn ar-Rijal, Sayyid al-Hasan ibn Ishaq ibn al-Mahdi, dan Muhammad ibn Ishaq ibn al-Mahdi.[5]
Selain kitab Subulus Salam, beliau juga meninggalkan ratusan karangan , antara lain kita bisa menyebut Taudhihul Afkar (Syarh Tanqihul Anzhar, dua jilid tentang musthalul hadits), Minhatul Ghaffar (catatan kaki atas Dhau’un Nahar lil Jalal), Tathhirul I’tiqad ‘an Adranil Ilhad, Syarh al-Jami’us Shagir li as-Suyuthi, dan Daiwanu Syi’ir.[6] Imam asy-Syaukani berkomentar : “Beliau (Imam ash-Shan’ani) adalah Imam besar dan mujtahid mutlak yang mempunyai banyak karangan.”[7]


B.        Studi Kitab Subulus Salam

Sebelum melakukan kajian atas kitab Subulus Salam, alangkan lebih baik jika terlebih dahulu melakukan kajian sederhana seputar kitab Bulughul Maram, mengingat bahwa Subulus Salam merupakan kitab syarah / penjelasan  dari Bulughul Maram.

1. Studi Kitab Bulughul Maram

1.A. Sekilas Kitab Bulughul Maram
Adalah Imam al-hafidz ibnu Hajar al-‘Asqalany ( 773- 852 H.) seorang ulama hadits yang terkenal di zamannya sang pengarang kitab Bulughul Maram min Adillatil Ahkam yang merupakan salah satu karya inovatif pada waktu itu. [8] Kitab ini merupakan kitab hadits tematik yang hanya memuat hadits-hadits yang dijadikan sumber istinbath (deduksi) hukum fiqih oleh para ahli fiqih. Kitab ini memuat sekitar 1597 buah hadits yang disusun secara tematis berdasarkan tema-tema fiqih, mulai dari Bab Bersuci ( Thaharah ) sampai Bab Kompilasi ( al-Jami’ ).

1.B. Metode dan Sistematika Kitab Bulughul Maram

Metode yang digunakan oleh Ibnu Hajar dalam menyusun kitab ini ialah metode tematis (maudlu’i). Beliau menyeleksi beberapa hadits dari kitab-kitab sahih, sunan, mu’jam, dan al-Jami yang berkaitan dengan hukum-hukum fiqih. [9]

Adapun sistematika kitab Bulughul Maram secara sederhana dapat dipetakan sebagai berikut :

1. Terdiri dari 15 Bab mulai dari Bab Bersuci ( Kitab at-Thaharah) sampai Bab kompilasi (Kitab al-Jami’ ), setiap bab terdiri dari beberapa sub-bab.
2. Memuat sekitar 1597 buah hadits sahih, hasan, bahkan dla’if yang bertemakan fiqih.
3. Memenggal ( ta’liq ) rangkaian sanad kecuali pada tingkat sahabat dan mukharrij.
4. Rumus Ibnu Hajar dalam penyebutan mukharrij :

Rumus
Arti
رواه السبعة
Diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzy,  Nasai dan Ibnu Majah
رواه الستة
Diriwayatkan oleh  imam selain Ahmad
رواه الخمسة
Diriwayatkan oleh  imam selain Bukhari-Muslim
رواه الأربعة
Diriwayatkan oleh  imam selain Ahmad, Bukhari dan Muslim
رواه الثلاثة
Diriwayatkan oleh  imam selain Ahmad, Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah
متفق عليه
Diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim

5. Terkadang menyertakan jalur-jalur periwayatan hadits secara ringkas dan menyebutkan tambahan-tambahan redaksi dari riwayat lainnya dan menjelaskan statusnya.

6. Menjelaskan status hadits-hadits yang dla’if ( fiihi dla’fun, fii isnadihi dla’fun.. dsb.) atau dengan keterangan Ulama, seperti wadla’aafahu Abu Hatim.

7. Dalam hal penguat hadits, Ibnu hajar menyertakan keterangan ringkas yang hanya mencantumkan sanad saja tanpa mengulang isi matan.

1.C. Kitab-Kitab Syarah Bulughul Maram

Sebagai salah satu kitab hadits yang cukup inovatif yang bercorak tematis, kitab Bulughul Maram banyak mendapat apresiasi dari para Ulama. Diantara ulama yang menulis kitab syarahnya adalah :

1. al-Badr al-Tamam, karya Qadly Husain al-Maghriby
2. Subulus Salam, karya Imam as-Shan’any
3. Ibanatul Ahkam, karya Syekh Abu Abdullah bin Abdus Salam Allusy
4. Tuhfatul Ayyam fii Fawaid Bulughil Maram, karya Syekh Samy bin Muhammad
5. Minhatul ‘Allam, karya Shalih Fauzan
6. Syarah bulughil Maram, karya Syekh ‘Athiyyah Muhammad Salim, dll.

 2. Selayang Pandang Kitab Subulus Salam

Judul lengkap kitab ini adalah Subulus Salam, Syarh Bulughil Maram min Jam’i Adillatil Ahkamatau yang lebih popular dengan Subulus Salambuah karya as-Sayyid al-Imam Muhammad bin Isma’il al-kahlany as-Shan’any, yang populer dengan al-Amir (1182-1059 H. ). Ia merupakan salah satu kitab syarah ( penjelasan / elaborasi ) kitab Bulughul Maram, sebuah kitab hadith tematik yang khusus menghimpun hadits-hadits bertemakan fiqih Islam, buah karya al-Hafidzh Ibnu hajar al-Asqalany.

Subulus Salam sendiri – sebagaimana dinyatakan oleh pengarangnya – merupakan ringkasan ( mukhtashar ) dari kitab al-Badr al-Tamam yang juga merupakan salah satu kitab  syarah Bulughul Maram buah karya Qadly Husain bin Muhammad al-Maghriby (w. 1119 H). [10]       
3. Metode dan Sistematika Kitab Subulus Salam

Sebagaimana disebutkan di atas, kitab Subulus Salam ini merupakan kitab syarah / penjelasan dari kitab Bulughul Maram. Tradisi syarah-mensyarah kitab merupakan salah satu aktivitas yang sangat intens di kalangan ulama Islam klasik. Tradisi inilah yang oleh sebagian “ dituding “ salah penyebab kemandegan / stagnasi keilmuan Islam pada waktu itu. Jenis kitab syarah juga bermacam-macam, diantaranya :

1. Syarah ( komentar detail )
2. Hasyiah ( catatan penting )
3. Talkhish ( komentar singkat ), dsb

3. 1. Metode

Secara umum, Imam as-Shan’any dalam kitab Subulus Salam menggunakan metode deskriptif-analisis dalam mengelaborasi kitab Bulughul Maram. Hal ini sebagaimana dijelaskan as-Shan’any dalam muqaddimah-nya :

“ saya meringkasnya dari syarah al-Qadly al-‘Allamah Syarafuddin Husain bin Muhammad al-Maghriby semoga Allah memberikan derajat yang tinggi kepada beliau, saya hanya menganalisis kata-katanya dan mendeskripsikan maknanya dengan hanya mengharap keridloan Allah semata  “. [11]

Secara lebih terperinci metode as-Shan’any dalam Subulus Salam dapat dijabarkan dalam beberapa hal di bawah ini :

1. Memulai dengan menyebutkan hadits dan komentar Ibnu Hajar.
2. Menguraikan informasi singkat perawi hadits disertai dengan komentarnya. Contohnya seperti :

(عن أبي هريرة رضي الله عنه) الجار والمجرور متعلّق بمقدر كأنه قال: باب المياه أروي فيه، أو أذكر، أو نحو ذلك حديثاً عن أبي هريرة. وهو الأول من أحاديث الباب. وأبو هريرة هو الصحابي الجليل الحافظ المكثر، واختلف في اسمه واسم أبيه على نحو من ثلاثين قولاً. قال ابن عبد البر: الذي تسكن النفس إليه من الأقوال: أنه عبد الرحمن بن صخر، وبه قال محمد بن إسحاق. وقال الحاكم أبو أحمد: ذكر لأبي هريرة في مسند بقي بن مخلد خمسة آلاف حديث وثلاثمائة وأربعة وسبعون حديثاً


3. Mulai menguraikan tema Baba tau Sub-Bab yang akan diuraikan.
اب المياه
الباب لغة: ما يدخل ويخرج منه. قال تعالى: {ادْخُلُواْ عَلَيْهِمُ الْبَابَ} {وَأْتُواْ الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا} - وهو هنا مجاز؛ شبه الدخول إلى الحوض في مسائل مخصوصة بالدخول في الأماكن المحسوسة، ثم أثبت لها الباب. والمياه: جمع ماء، وأصله: موه ولذا ظهرت الهاء في جمعه، وهو جنس يقع على القليل والكثير، إلا أنه جمع لاختلاف أنواعه باعتبار حكم الشرع، فإن فيه ما ينهى عنه وفيه ما يكره. وباعتبار الخلاف أيضاً في بعض المياه كماء البحر، فإنه نقل الشارح الخلاف في التطهّر به عن ابن عمر، وابن عمرو.
4. Terkadang dicantumkan penjelasan linguistik.
5. Menguraikan syarah / penjelasan hadits yang mencakup penjelasan fiqih hadis dengan menyertakan pendapat Ulama-Ulama madzhab, para mujtahid, dsb, pertentangan pendapat di dalamnya dan komentarnya sendiri yang tidak memiliki kecendrungan kepada salah satu madzhab.



3. 2. Sistematika Penulisan

Berdasarkan kitab cetakan al-Ma’arif, Riyadh, kitab Subulus Salam karya Ash-Shan’ani ini mempunyai tebal 4 Juz, yang semanya di-Ta’liq oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani.  Tiap juz terdiri dari beberapa Kitab (Bab) dan Bab (Sub-Bab), dan Fihris (Daftar Pustaka). Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:

1.    Juz I        : Kitab Thaharah – Kitab Shalat (Bab al-Mawaqit-Bab Sujud Sahwi)
2.    Juz II       : Kitab Shalat (Bab Shalat Tathawu’-Bab al-Libas)-Kitab al-Hajji
3.    Juz III       : Kitab al-Buyu’-Kitab Al-Ruj’ah
4.    Juz IV      : Kitab al-Jinayat-Kitab al-Jami’

NO
JUZ
BAB
SUB-BAB
HALAMAN
1.
I
Muqaddimah al-Nasyir
-
5-12
2.
Muqaddimah Mushannif
-
13-26
3.
Kitab al-Thaharah
10 Sub-Bab
27-319
4.
Kitab al-Shalat
8 Sub-Bab
321-605
5.
Fihris

606
6.
II
Kitab al-Shalat
9 Sub-Bab
5-265
7.
Kitab al-Janaiz
-
266-345
8.
Kitab al-Zakat
3 Sub-Bab
346-418
9.
Kitab al-Shiyam
2 Sub-Bab
419-490
10.
Kitab al-Hajji
6 Sub-Bab
491-592
11.
Fihris
-
593
12.
III
Kitab al-Buyu’
22 Sub-Bab
5-300
13.
Kitab al-Nikah
6 Sub-Bab
301-458
14.
Kitab al-Thalaq
-
459-494
15.
Kitab al-Ruj’ah
6 Sub-Bab
495-428
16.
Fihris
-
429
17.
IV
Kitab al-Jinayat
4 Sub-Bab
5-98
18.
Kitab al-Hudud
5 Sub-Bab
99-196
19.
Kitab al-Jihad
2 Sub-Bab
197-274
20.
Kitab al-Ath’imah
3 Sub-Bab
275-340
21.
Kitab al-Iman wa al-Nudzur
6 Sub-Bab
341-630
22.
Fihris
-
631
Total
15 BAB
92 Sub-Bab


3. Apresiasi Terhadap Kitab Subulus Salam

Subulus Salam merupakan kitab syarah Bulughul Maram yang paling populer. Ia juga merupakan salah satu kitab syarah hadits yang paling banyak dikaji di berbagai pondok pesantren di Indonesia. Hal ini tidak lepas dari kebutuhan akan pemahaman yang lebih mendalam akan kitab Bulughul Maram yang notabene merupakan salah satu kitab hadits yang paling banyak dikaji di Indonesia. Secara konklusif, ditinjau dari sudut pandang madzhab, kitab Subulus Salam merupakan salah satu kitab lintas madzhab yang meng-counter keempat madzhab, seperti halnya Bidayatul Mujtahid-nya Ibn Rusyd. 
Dari segi konten, materi kitab subulus salam sudah cukup komprehensif. Mulai dari materi ulumul hadits terkait kualitas hadits dan beberapa uraian jarh-ta’dil perawi, dsb. Hinggga materi fiqih hadits yang disempurnakan dengan analisis yang dilakukan sendiri oleh penulisnya. Ketidakterikatan penulis dalam sekat-sekat madzhab di sini cukup terlihat, hal ini tidak lepas dari statusnya yang “ tidak bermadzhab “ atau penganut madzhab mutaharrir ‘an al-Taqaalid / kebebasan dari taqlid buta, sehingga tidak ada tendensi kepada salah satu madzhab. Pemilihan produk hukum sepenuhnya ditentukan oleh analisisnya sendiri. Namun meskipun begitu beliau masih mempertimbangkan produk pemikiran Ulama madzhab yang empat. Hal ini –  sebagaimana dinyatakann as-Syaukani – mungkin dikarenakan ia memang telah mencapai predikat mujtahid mutlak. 

          Dari segi materi, kitab ini memang masih cukup established untuk dikonsumsi oleh kita masa kini. Hanya saja Jika memang harus ada yang harus dikritisi dalam rangka re-cycling kitab klasik masa kini, maka itu hanya sebatas pada sistematika penulisan kitab saja. Sistematika kitab syarah (tempo dulu), sekalipun materinya sangat kompleks, ia masih terkubur dalam sistem penulisan yang datar menghampar tanpa ada kategortisasi yang jelas.
          Untuk me-recycling kitab subulus salam, alangkah lebih baik jika ia ditempilkan kembali dengan wajah baru, yakni dengan sistematika penulisan modern dengan masih mempertahankan kekayaan materi yang ada di dalamnya. Salah satu model kitab syarah masa kini misalnya setiap hadits dalam subulus salam diikuti dengan syarah / penjelasan yang berkategori secara konsisten dari awal hingga akhir. Misalnya :

1.    Hadits
2.    Ruwat : identifikasi singkat perawi
3.    Al-Ma’na al-Ijmaly : makna global ( satu paragraf pendek )
4.    Al-Tahlil al-Lafdzhy (makna kosakata )
5.    Al-Ma’na al-Tafshily ( uraian rinci )
6.    Fiqhul Hadits ( konklusi hukum-hukum fiqih )

Dengan sistematika seperti ini diharapkan kitab Subulus Salam akan lebih akrab dengan para pembaca kontemporer.

1.   Contoh Pembahasan
Contoh hadits di bawah ini kami ambil dari kitab yang di syarah oleh Imam Shan’ani, yakni Bulughul Maram bab al-Miyah sekedar melihat contoh bagaimana Imam Shan’ani mensyarahi salah satu hadits yang berada dalam kitab tersebut.

بلوغ المرام من أدلة الأحكام - (ج 1 / ص 58)
183- وَعَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ - رضي الله عنه - - أَنَّ اَلنَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - أَعْجَبَهُ صَوْتُهُفَعَلَّمَهُ اَلْآذَانَ - رَوَاهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ (8(
(8) - رواه ابن خزيمة (377)

Berikut ini adalah pensyarahan yang dilakukan oleh Imam as-Shan’ani dalam kitab Subulus Salam terhadap hadits di atas:
سبل السلام - (ج 1 / ص 120)
4(وعن أبي محذورة)
 تقدم ضبطه وبيان حاله أن النبي صلى الله عليه وسلم علمه الأذان أي ألقاه صلى الله عليه وسلم بنفسه في قصة حاصلها أنه خرج أبو محذورة بعد الفتح 
إلى حنين هو وتسعة من أهل مكة فلما سمعوا الأذان أذنوا استهزاء بالمؤمنين فقال صلى الله عليه وسلم: "قد سمعت في هؤلاء تأذين إنسان حسن الصوتفأرسل إلينا فأذنا رجلا رجلا وكنت آخرهم فقال حين أذنت تعال فأجلسني بين يديه فمسح على ناصيتي وبرك علي ثلاث مرات ثم قال: "اذهب فأذن ثم المسجد الحرامفقلت يا رسول الله فعلمني الحديث
(فذكر فيه الترجيع)

أي في الشهادتين ولفظه عند أبي داود ثم تقول أشهد أن لا إله إلا الله أشهد أن محمدا رسول الله تخفض بها صوتك قيل المراد أن يسمع من بقربه قيل والحكمة في ذلك أن يأتي بهما أولا بتدبر وإخلاص ولا يتأتى كمال ذلك إلا مع خفض الصوت قال ثم ترفع صوتك بالشهادة أشهد أن لا إله إلا الله أشهد أن لا إله إلا الله أشهد أن محمدا رسول الله أشهد أن محمدا رسول الله فهذا هو الترجيع الذي ذهب جمهور العلماء إلى أنه مشروع لهذا الحديث الصحيح وهو زيادة على حديث عبد الله بن زيد وزيادة العدل مقبولة وإلى عدم القول به ذهب الهادي وأبو حنيفة وآخرون عملا منهم بحديث عبد الله بن زيد الذي تقدم
(أخرجه مسلم ولكن ذكر التكبير في أوله مرتين فقط)
 لا كما ذكره عبد الله بن زيد آنفا وبهذه الرواية عملت الهادوية ومالك وغيرهم
(ورواه)
 أي حديث أبي محذورة هذا
(الخمسة)
هم أهل السنن الأربعة وأحمد
(فذكروه)
أي التكبير في أول الأذان
(مربعا)
 كروايات حديث عبد الله بن زيد قال ابن عبد البر في الاستذكار التكبير أربع مرات في أول الأذان محفوظ من رواية الثقات من حديث أبي محذورة ومن حديث عبد الله بن زيد وهي زيادة يجب قبولها واعلم أن ابن تيمية في المنتقى نسب التربيع في حديث أبي محذورة إلى رواية مسلم والمصنف لم ينسبه إليه بل نسبه إلى رواية الخمسة فراجعت صحيح مسلم وشرحه فقال النووي إن أكثر أصوله فيها التكبير مرتين في أوله وقال القاضي عياض إن في بعض طرق الفارسي لصحيح مسلم ذكر التكبير أربع مرات في أوله وبه تعرف أن المصنف اعتبر أكثر الروايات وابن تيمية اعتمد بعض طرقه فلا يتوهم المنافاة بين كلام المصنف وابن تيمية



End Notes

[1] Irwan Kelana dan Taufiq Rachman, “Subulus Salam, Rujukan Hadits-Hadits ‘Ahkam’”, Republika. 06 April 2010
[2] Muhammad ibn Ali asy-Syaukani, al-Badru ath’Thali’, (CD ROM Maktabah Syamilah), juz II, hal. 127
[3] Al-Amir, Subulus Salam, (Bandung : Diponegoro), hal. 6
[4] Muhammad ibn Ali asy-Syaukani, al-Badru ath-Thali’, (CD ROM Maktabah Syamilah), juz II, hal. 127
[5] Muhammad ibn Ali asy-Syaukani, al-Badru ath’Thali’, (CD ROM Maktabah Syamilah), juz II, hal. 133
[6] Zainul Arifin, “al-Imam Ash-Shan’ani”, Majalah Asy-Syariah edisi  019
[7] Muhammad ibn Ali asy-Syaukani, al-Badru ath’Thali’, (CD ROM Maktabah Syamilah), juz II, hal. 127
[8] .  Ketika masa itu minat dan antusiasme masyarakat muslim untuk mempelajari kitab-kitab hadits yang “ tebal “ dan panjang lebar telah memudar, kemudian Ibnu hajar mengarang suatu karya berupa kompilasi hadits-hadits yang khusus tentang hukum fiqih. Lihat muqaddimah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, ( Surabaya: al-Mifah, t.th), hlm. 7
[9] .  Muhammad bin Isma’il as-Shan’any, Subulus Salam, ( Riyadl: Maktabah al-Ma’arif, 2006), hlm. 5-6
[10] . Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh pengarang Subulus Salam sendiri dalam muqaddimahnya : “ aku meringkasnya dari syarah al-qadly al-‘allamah syarafuddin al-husain bin Muhammad al-Maghriby, semoga Allah memberikan derajat yang tinggi kepadanya “. Lihat Muhammad bin Isma’il as-Shan’any, Subulus Salam, ( Bandung: Diponegoro, tanpa tahun), hlm. 7
[11] Subulus Salam, hlm. 7

0 comments

Poskan Komentar